PENYULUHAN TENTANG STUNTING DI BALAI DUSUN DESA PETAJEN KEC. BAJUBANG, KAB. BATANGHARI KOTA JAMBI
Main Article Content
Abstract
Stunting adalah masalah kekurangan gizi kronis dikarenakan kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak dimana tinggi badan anak lebih rendah atau pendek dari standar usianya. Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan meningkatnya risiko kesakitan, kematian dan hambatan pada pertumbuhan baik motorik maupun mental. Stunting dibentuk oleh growth faltering dan catcth up growth yang tidak memadai yang mencerminkan ketidakmampuan untuk mencapai pertumbuhan optimal (Paramashanti, 2019). Stunting dapat memberikan dampak bagi kelangsungan hidup anak, dampak yang diakibatkan oleh stunting adalah dapat menyebabkan mortalitas dan morbiditas, penurunan perkembangan kognitif, motorik dan bahasa dan berdampak pengeluaran biaya untuk kesehatan, selain itu stunting juga berdampak pada obesitas, penurunan kesehatan reproduksi, penurunan prestasi dan kapasitas belajar dan penurunan kemampuan dan kapasitas kerja di masa depan. Anak stunting atau bertubuh pendek merupakan indikasi kurangnya asupan gizi, baik secara kuantitas maupun kualitas yang tidak terpenuhi sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan. Selain tubuh pendek stunting dapat menimbulkan dampak lain yaitu gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Stunting adalah masalah kekurangan gizi kronis dikarenakan kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak dimana tinggi badan anak lebih rendah atau pendek dari standar usianya. Prevalensi stunting di Indonesia masih sangat tinggi. Menurut Global Nutrition Report tahun 2018, prevalensi stunting di Indonesia menempati urutan 108 dari 132 negara partisipan. Menurut data pada Laporan Kinerja (LKj) Kementerian Kesehatan tahun 2020, Target prevalensi stunting pada Balita untuk tahun 2020 adalah 24,1% (5.543.000 Balita), sementara laporan pada Aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (ePPGBM SIGIZI) per tanggal 20 Januari 2021, dari 34 provinsi menunjukkan bahwa dari 11.499.041 balita yang diukur status gizinya berdasarkan tinggi badan menurut umur (TB/U) terdapat 1.325.298 balita dengan TB/U <-2 SD atau dapat dikatakan 11,6% balita mengalami stunting.
Kata Kunci: Penyuluhan, Stunting, dan Pemberian Makanan Tambahan
Abstract
Stunting is a problem of chronic malnutrition due to a lack of nutritional intake over a long period of time, resulting in growth disorders in children where the child's height is lower or shorter than the age standard. Stunting is a public health problem that is associated with an increased risk of morbidity, death and obstacles to both motor and mental growth. Stunting is formed by growth faltering and inadequate catch-up growth which reflects an inability to achieve optimal growth (Paramashanti, 2019). Stunting can have an impact on children's survival, the impact caused by stunting is that it can cause mortality and morbidity, decrease cognitive, motor and language development and impact health costs, apart from that, stunting also has an impact on obesity, decreased reproductive health, decreased achievement and learning capacity and future decline in ability and work capacity. Stunted or short stature children are an indication of a lack of nutritional intake, both in quantity and quality, which has not been met since infancy, even in the womb. Apart from short stature, stunting can have other impacts, namely impaired growth and development. Stunting is a problem of chronic malnutrition due to a lack of nutritional intake over a long period of time, resulting in growth disorders in children where the child's height is lower or shorter than the age standard. The prevalence of stunting in Indonesia is still very high. According to the 2018 Global Nutrition Report, the prevalence of stunting in Indonesia ranks 108th out of 132 participating countries. According to data in the Ministry of Health's 2020 Performance Report (LKj), the target for the prevalence of stunting in children under five for 2020 is 24.1% (5,543,000 children under five), while the report on the Community-Based Nutrition Recording and Reporting Application (ePPGBM SIGIZI) as of 20 January 2021, from 34 provinces, it showed that of 11,499,041 toddlers whose nutritional status was measured based on height for age (TB/U), there were 1,325,298 toddlers with TB/U <-2 SD or it could be said that 11.6% of toddlers experienced stunting. .
Keywords: Counseling, Stunting, and Providing Supplementary Food7