PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG COOKIES DAUN KELOR SEBAGAI INOVASICEMILAN SEHAT PENDUKUNG PENURUNAN STUNTING DAN PENGARUH EKSTRAK DAUN KELOR PADA PRODUKSI ASI DI DESA TANGKIT KEC. SUNGAI GELAM KAB. MUARO JAMBI

Main Article Content

Nisa Kartika Ningsih Sunarti Lubis

Abstract

Cookies merupakan makanan yang cukup populer. Cookies merupakan pangan praktis
karena dapat dimakan kapan saja dan dengan pengemasan yang baik, cookies memiliki daya
simpan yang relatif panjang. Cookies dapat dipandang sebagai sesuatu yang baik sebagai salah
satu jenis pangan yang dapat memenuhi kebutuhan khusus manusia. Berbagai jenis cookies
telah dikembangkan untuk menghasilkan cookies yang tidak hanya enak tapi juga menyehatkan
(Manley, 2010).
Cookies seringkali dikonsumsi sebagai makanan selingan diantara dua waktu makan,
antara pagi dan siang atau antara siang dan malam. Cookies dibuat dari bahan dasar tepung dan
bahan-bahan tambahan lain yang membentuk suatu formula, sehingga menghasilkan cookies
dengan sifat struktur tertentu. Formula pembuatan cookies bermacam-macam, hal ini
tergantung dari sifat-sifat bahan mentah yang digunakan (I Hui, 2011).
Menurut Jonni (2008), salah satu bagian tanaman kelor yang sering dimanfaatkan
adalah daunnya. Daun kelor sangat kaya akan nutrisi, diantaranya kalsium, besi, protein,
vitamin A, vitamin B, dan vitamin C ( misra & misra, 2014). Daun kelor mengandng zat besi
lebih tinggi daripada sayuran lainnya yaitu sebesar 17,2 mg/100 g (Yameogo et al. 2011). Selain
itu, daun kelor juga mengandung berbagai macam asam amino, antara lain asam amino yang
berbentuk asam aspartat, asam glutamat, alanin, valin, leusin, isoleusin, histidin, lisin, arginin,
venilalanin, triftopan, sistein dan methionin (Simbolan et al. 2007).
Namun, di Indonesia sendiri pemanfaatan kelor masih belum maksimal, umumnya
hanya dikenal sebagai salah satu menu sayuran. Sebenarnya selain itu, kelor juga dapat di olah
menjadi produk makan atau camilan yang sehat. Kebutuhan nutrisi yang terkandung dalam
kelor sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah malnutrisi yang terjadi.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevelensi angka stunting terbesar.
Angka stunting anak pada tahun 2019 berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia yaitu
sebesar 27,2% dari 37,2% pada tahun 2013 (Kurniati et al., 2020). Stunting merupakan balita
yang tinggi badan untuk usia di bawah minus dua standar deviasi dari standar median WHO
(TB/U <-2 SD). Hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 37,2% sedangkan pada tahun 2018 sedikit menurun menjadi 30,8%.
Berdasarkan survei SSGBI (Studi Status Gizi Balita Indonesia) oleh Balitbangkes Kemenkes
RI, pada 2019 hasil prevalensi stunting di Indonesia menurun menjadi 27,67% (Kemenkes RI,
2020).
Stunting disebabkan beberapa faktor, penyebab langsungnya adalah kurangnya asupan
makan dan penyakit menular (infeksi). Pada faktor asupan, riwayat konsumsi energi, lemak,
protein, dan zat besi berhubungan dengan terjadinya stunting (Azmy, 2018; Sulistianingsih &
Yanti, 2016).

Article Details

How to Cite
KARTIKA NINGSIH, Nisa; LUBIS, Sunarti. PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG COOKIES DAUN KELOR SEBAGAI INOVASICEMILAN SEHAT PENDUKUNG PENURUNAN STUNTING DAN PENGARUH EKSTRAK DAUN KELOR PADA PRODUKSI ASI DI DESA TANGKIT KEC. SUNGAI GELAM KAB. MUARO JAMBI. DEDIKASI KBJ: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, [S.l.], v. 1, n. 1, p. 38-56, feb. 2024. Available at: <http://ojs.stikeskeluargabunda.ac.id/index.php/dedikasi-kbj/article/view/243>. Date accessed: 26 may 2024.
Section
Articles